Diagnosa Cinta: Sepucuk Surat Dahaga
Di pertengahan bulan juli, aku menitih riang bersama
kekasihku dengan penuh hati-hati. Bersama cinta aku menoreh goresan kehidupan
warna-warni seindah pelangi. Di atas kisahku, aku berbisik manja, lembut dan
anggun. Demi kelancaran saat menitih perjalanan kisah cintaku menuju
singgahsana dalam sebuah istana keluarga.
Berada pada dua
puluh tiga bulan, seakan mengendarai sepeda motor di atas bebatuan keegoisan,
kebohongan dan kecekcokan yang melonjak. Berkelok kala melintasi area itu
dengan penuh kekhawatiran dan kewaspadaan. Butuh kasih sayang penuh ketika
menjalaninya. Benar-benar dasyat perjalanan menitih kisah cintaku.
Sempat jatuh dalam
kelembaban air mata. Sering pula melewati jalan kekecewaan. Namun aku selalu
ingat akan resep yang diberikan dokter padaku. Yaitu sebuah kepercayaan,
kejujuran dan kerinduan padanyalah yang menjadi ramuan mujarab bagi penderita
sakit seperti diriku. Sesekali aku mencoba ramuan tersebut, namun sering kali
aku merasakan kesakitan dalam diriku yang tak kunjung sembuh. Bahkan bisa
dikata lebih parah dari kondisiku saat awal-awal perjalanan menitih kisah
cintaku.
Lantas aku mencoba
periksa ke dokter lain yang spesialis. Karena setahuku kata spesialis itu
berarti satu yang menjadi lambang akan dokter yang benar-benar mengetahui
penyakit yang sedang menggerogoti diriku.
Senja pun terseret
oleh sinar bias mentari. Aku berkunjung padanya dan tak lupa bercerita mengenai
penyakit yang kini sedang kuderita. Sesampainya di sana, aku menemukan segerombol pasien yang
sedang menunggu di ruang tunggu. Sedikit tersenyum kecut aku melihatnya. Karena
dengan sangat tiba-tiba, sebuah pertanyaan terbesit pada pikiranku. Apakah
nasibku sama seperti orang-orang ini, yang ingin sembuh dari penyakitnya?
Bahkan aku melihat kantuk mata yang sampai sedikit sembab akibat perilaku air
mata yang keluar tanpa permisi.
Satu dua jam aku
menunggu giliran. Duduk bersama pasien yang senasib, membikin hati kecilku
mengembangkan senyum hangat. Sebab ternyata nasibku tak sendiri. Lambat waktu,
jarum jam terus berputar. Hingga akhirnya tibalah giliranku.
Berjalan memasuki
ruangan ber-AC, seadem hidup sang dokter. Seperti tak kenal masalah yang
menggandulinya. Senyum ramah pun tersungging pada parasnya. Lumayan, sedikit
terobati rasa sakitku.
Duduk berhadapan
dengannya, aku mulai bercerita sekilas penyakit yang bersembunyi di balik
benakku. Tetesan air mata mengalir pada pipiku, mengingat akan penyakit yang
menimpaku. Dokter mencoba menenangkan dan menghiburku. Sekian lama berbincang-bincang
padanya, aku pun tak lupa diberi resep olehnya.
Hingga akhirnya,
selepas keluar dari ruangan, kini aku telah mengetahui bahwa tak baik aku
meneruskan perjalanan kisah cinta ini. Kali ini aku telah menebak resep yang
diberikan dokter tersebut., yaitu rajanya obat yang paling mujarab, putus!
Lega,
namun sedikit kebimbangan terusik dibenakku. Mungkinkah resep yang telah
diberikan dokter itu adalah resep yang paling mujarab? Atau hanya karena rasa
cintaku yang tak mau enyah dari hatiku saja? Entahlah, kegalauan kini sedang
mencekram perasaanku. aku pun tak tahu harus ke mana aku berobat? Penat, galau,
dan rasa rindu pada cinta yang dulu pernah mengisi hari-hariku dari orang yang
jelas-jelas sudah tidak memperdulikan diriku lagi kala ini. Hingga akhirnya,
aku pun memutuskan untuk pulang. Hanya istirahat yang sedang aku butuhkan untuk
sedikit meredahkan penyakit yang sedang menggerogoti diriku.
Tidak
ada satu dua jam, semilir angin telah mengantarkanku ke rumah. Baru saja kedua
kakiku menginjakkan tanah di pekarangan rumah, belum juga beristirahat untuk
bernafas lega, tiba-tiba seperti sederet kata-kata ‘datang tak dijemput pulang
tak diantar’, seorang pengantar jasa keliling yang diutus oleh kantor pos untuk
mengatarkan sejumlah surat berharga atau bahkan bingkisan yang bernilai
harganya dari seseorang yang berada jauh di sana, berhenti tepat di depan
rumahku.
“Selamat siang, mbak. Dengan Ghea
Larasati.” Kali ini pak pos menyebut namaku. Dengan hati gundah gulana dan
sedikit deg-degan, aku pun menganggukkan kepala.
“Iya saya sendiri.” Jawabku sembari
mengulurkan tangan menerima surat yang disodorkan oleh pak pos. Lantas, pak pos
pun meninggalkanku bersama surat yang aku terima. Entahlah, penyakit yang kini
sedang menggelayut dalam diriku semakin bertambah saja. Berbaring! Yah, hanya
itu yang harus aku lakukan agar sedikit meringankan rasa sakitku. Namun,
lagi-lagi hal itu gagal aku lakukan. Karena aku teringat akan surat yang telah
dihantarkan oleh pak pos tadi. Ada rasa penasaran yang begitu besar dalam surat
itu. Dengan gesit aku pun membukanya.
Dear,
Ghea Larasati.
Larut
dalam cinta bersamamu adalah suatu anugerah bagi diriku. Lekas berpaling dari
cintamu, itu bukan keinginanku. Namun, kita tak pernah tahu akan rahasia angin
yang bertiup memaksakan guliran waktu untuk membawakan takdir cinta kita.
Takdir yang tak seorang pun akan mengetahuinya. Entah itu aku sendiri, kamu
atau bahkan cinta kita yang setiap hari selalu berusaha tumbuh dan kian
meningkat itu. Namun, mau berkata apa? Takdir cinta hanya mampu mengantarkan
kita ke dalam guliran waktu dua puluh tiga bulan saja. Bagiku dua puluh tiga
bulan bukanlah waktu yang lama. Begitu cepat berlalu cinta diantara kita.
Namun, sekali lagi, apa mau dikata? Kini cinta kita harus berhenti di sini.
Betapa menyakitkan peristiwa ini. Akan tetapi, kamu tidak perlu meneteskan air
mata sedikit pun untuk takdir cinta kita yang harus berhenti sampai di sini
ini. Dan perlu kamu tahu, meski takdir cinta telah berhenti cukup sampai di
sini, namun akan ku simpan cinta kita dalam peti kenangan dalam hidupku hingga
kelak. Maafkan aku yang hanya seorang pengecut. Yang hanya mampu mengungkapkan
takdir cinta ini melalui surat yang sengaja ku tulis. Surat yang menjadi bukti
berakhirnya takdir cinta kita selama ini. Semoga kamu bisa menerima keputusanku
yang hanya terselip pada goresan tinta hitam dalam surat yang ku kirim ini.
Semoga hubungan silaturrahmi persahabatan kita tetap terjalin hingga takdir
cinta mempertemukan kita pada jodoh yang telah disediakan oleh Yang Maha Kuasa.
Sekali lagi, semoga semilir angin tak henti-hentinya mengantarkan permohonan
maafku padamu dan mampu mengatarkan kesejukan dalam hatimu.
Senyum
hangat,
Sahabatmu
***
Tiga bulan kemudian, sejak ku terima
surat itu, hari-hariku semakin tak karuan. Aku kehilangan diriku yang dulu.
Diriku yang selalu ceria, riang gembira hingga waktu menatapku cemburu membisu.
Seakan tak mau membantuku menemukan jati diriku yang dulu. Jati diri yang
hilang tersapu akibat kehadiran surat itu.
”Surat itu! surat itu! Yah, surat itu!
di mana surat itu aku letakan?” gumamku dalam hati. Dari pojok ke pojok aku
telusuri namun nihil. Tak ada bekas jejak surat itu. Apakah ini pertanda aku
telah melupakannya selama ini? Atau karena kecerobohanku saja yang tak mau
sedikit mengalah untuk menyimpannya? Huh! Lagi-lagi hanya berbaring di tempat
tidur yang aku lakukan.
Siang hari, kala mentari bersemangat memancarkan
sinarnya, aku melangkah keluar menuju tempat dokter. Dokter yang dulu pernah
aku temui. Kini saatnya aku mengontrolkan kondisi diriku yang kian hari kian
tidak jelas kondisinya. Aku melangkah sendiri tanpa seorang pun yang menemani.
Hanya angin yang mampu meniupkan kesejukannya mengantarku ke tempat dokter itu.
Kali ini, dari kejauhan tempat itu tampak sepi. Seperti tak ada penghuni di
sana. Namun, aku tetap harus menemui dokter itu. Akhirnya, sekarang aku pun
bertatap muka dengan dokter itu. aku menceritakan kejadian-kejadian yang telah
mengusikku belakangan ini-tentang surat itu. Keheningan pun kini membalut
ruangan tempat aku konsultasi dengan dokter. Kali ini, ketegangan sedikit
terlihat diraut wajah dokter itu. raut wajah yang tidak seperti dahulu kala.
Dan dengan menarik nafas panjang, dokter pun akhirnya berbicara mengenai
diriku. Dengan berat hati aku mendengar kabar buruk yang keluar dari mulut
dokter di depanku. Terkejut, tak kuduga dan tak ku bayangkan, dokter itu telah
mendiagnosa diriku. Aku telah terserang penyakit liver. Liver yang telah tega
menggerogoti diriku selama ini.
Aku
benci kabar ini! Aku benci penyakit ini! Aku benci surat itu! aku benci!
Sederet kata aku lontarkan begitu saja di depan dokter. Air mata pun mengiringi
suasana hatiku yang sedang kacau balau. Aku terdiam. Tak ada sedikit pun
desisan-desisan angin yang menyejukan perasaanku. Hening! Bahkan burung-burung
pun ikut berduka mendengar kabar itu. Kabar tentang penyakit liverku. Di mana
burung-burung itu? di mana hembusan angin itu? di mana kalian semua?
Sejak itu, aku hanya terbaring lemas
tak berdaya. Hanya teman-teman karibku saja yang bersedia silih berganti
menghiburku. Dan tak sadar, botol-botol infus yang berisi ramuan-ramuan
mujarab, kini telah memasuki tubuhku. Sedikit demi sedikit sudah aku rasakan.
Namun, air mata tak pernah lelah keluar dari kantong mata jikalau mengingat penyakit
liver yang sedang ku derita. Sungguh! Sungguh tidak tahan dengan kejadian yang
ada.
Tiap hari, dokter tak pernah lelah
memberiku obat. Namun, semua itu harus ada niat dan keyakinan tersendiri dari
diriku. Apakah masih saja sibuk mengingat surat itu? atau memutuskan untuk
hengkang dari masa laluku yang suram itu? semua itu kembali lagi pada diriku.
Hingga lambat laun, tanggal yang
tertera di kalender mendekati tanggal kelahiranku. Tanggal yang begitu sakral
bagiku. Karena di tanggal itulah awal perjalanan takdir cintaku mulai bersemi.
Dan waktu pun bergulir cepat. Sekaranglah mulai masuk tanggal kelahiranku.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku
secara rutin memperingatinya dengan mengadakan syukuran atau yang biasa disebut
pesta ulang tahun. Namun, pesta ulang tahunku kali ini, tidak semeriah
tahun-tahun sebelumnya. Penyakit liver yang sedang menggerogoti diriku masih
saja aku rasakan. Sungguh, benar-benar sakit. Tapi, aku dipaksa oleh
teman-teman karibku untuk tetap terliat bugar pada penampilanku. Topeng senyum
pun akhirnya menghiasi wajahku yang suram. Dan dengan perasaan yang super tidak
karuan akibat penyakit liver yang ku derita ini, aku merayakan tanggal
kelahiranku. Rasa terharu terbesit di benakku kala mendengar nyanyian lagu
selamat ulang tahun dari orang-orang di sekelilingku. Kini, tiba saatnya aku
berucap doa dalam tiupan lilin angka umurku. Aku pun berucap: semoga diusiaku
kali ini, aku berdoa pada Tuhan agar dipertemukan dengan lelaki yang rela
memberikan hatinya untukku. Lelaki yang akan menyandingkan hatiku dengan
hatinya. Seiring doa itu terucap dari benakku, tetesan air mata pun mengalir
mengiringinya. Dan sekarang tiupan lilin telah aku padamkan. Suasana pesta
ulang tahunku pun mulai melebur dengan penuh keramaian.
Tiba-tiba, seorang lelaki berjalan mendekatiku
sembari menyerahkan sebuah bingkisan cantik berbentuk hati yang disodorkan ke
arahku. Hati itu bertuliskan: will you marry me. Tulisan yang tega meneteskan
air mataku. Tulisan yang mengantarkan ku pada rasa bahagia yang selama ini
sedang kurindukan.
Lelaki itu. Lelaki itu. Kamulah orang yang
rela memberikan hati itu untukku. Begitu terenyuh hati ini. Penyakit liverku,
kini telah melebur bersama bingkisan bertulisan tersebut.
Aku berkunjung kembali ke dokter yang
dulu sempat mendiagnosa diriku dengan penyakit liver yang bersemayam dalam
diriku. Dan kini, ada sedikit ketidakpercayaan dengan raut wajah yang tampak
pada dokter itu. Apakah dokter ini kini sengaja memakai topeng senyum ke
arahku? Apakah dokter ini lupa melepas topeng dari wajahnya? Entahlah, yang
terpenting dalam hidupku saat melihat topeng yang terpampang di wajah dokter
dan gembira saat mendengar kabar dari dokter kalau penyakit liver yang sedang
ku derita kini telah melebur dan semoga tidak kembali lagi dalam hidupku. Tak
lupa dokter pun memberiku resep. Resep yang sama dengan dokter yang sebelum aku
merasakan keparahan pada penyakitku. Yaitu sebuah kepercayaan,
kejujuran dan kerinduan padanyalah yang menjadi ramuan mujarab untuk diriku saat ini. Sekarang
penyakit itu telah sirna sudah tersapu oleh angin kebahagiaan, canda tawa dari
teman-teman dan menyibukan diri dalam kegiatan. Aku bahagia. Kini aku
benar-benar telah sembuh total dari penyakit yang dulu pernah menggerogoti
hatiku. Alhamdulillah! Aku begitu
bersyukur dan tak henti-hentinya berucap terimakasih pada Thuan karena telah
mengantarkan lelaki yang rela memberikan hatinya untukku. Dan mampu
menghapuskan air mata yang selalu menggenangi pipiku. Kini aku bahagia telah
hidup bersama dengan lelaki itu. Lelaki yang menjadi imam dalam perjalanan
hidupku. Lelaki yang menjadi selimut dalam tidurku. Tuhan, terimakasih. Ucapku
sebagai pengantar dalam tidurku sembari memejamkan kedua bola mataku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar