Selasa, 30 Juli 2013

Diagnosa Cinta: Sepucuk Surat Dahaga


Di pertengahan bulan juli, aku menitih riang bersama kekasihku dengan penuh hati-hati. Bersama cinta aku menoreh goresan kehidupan warna-warni seindah pelangi. Di atas kisahku, aku berbisik manja, lembut dan anggun. Demi kelancaran saat menitih perjalanan kisah cintaku menuju singgahsana dalam sebuah istana keluarga.

            Berada pada dua puluh tiga bulan, seakan mengendarai sepeda motor di atas bebatuan keegoisan, kebohongan dan kecekcokan yang melonjak. Berkelok kala melintasi area itu dengan penuh kekhawatiran dan kewaspadaan. Butuh kasih sayang penuh ketika menjalaninya. Benar-benar dasyat perjalanan menitih kisah cintaku.

            Sempat jatuh dalam kelembaban air mata. Sering pula melewati jalan kekecewaan. Namun aku selalu ingat akan resep yang diberikan dokter padaku. Yaitu sebuah kepercayaan, kejujuran dan kerinduan padanyalah yang menjadi ramuan mujarab bagi penderita sakit seperti diriku. Sesekali aku mencoba ramuan tersebut, namun sering kali aku merasakan kesakitan dalam diriku yang tak kunjung sembuh. Bahkan bisa dikata lebih parah dari kondisiku saat awal-awal perjalanan menitih kisah cintaku.

            Lantas aku mencoba periksa ke dokter lain yang spesialis. Karena setahuku kata spesialis itu berarti satu yang menjadi lambang akan dokter yang benar-benar mengetahui penyakit yang sedang menggerogoti diriku.

            Senja pun terseret oleh sinar bias mentari. Aku berkunjung padanya dan tak lupa bercerita mengenai penyakit yang kini sedang kuderita. Sesampainya di sana, aku menemukan segerombol pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu. Sedikit tersenyum kecut aku melihatnya. Karena dengan sangat tiba-tiba, sebuah pertanyaan terbesit pada pikiranku. Apakah nasibku sama seperti orang-orang ini, yang ingin sembuh dari penyakitnya? Bahkan aku melihat kantuk mata yang sampai sedikit sembab akibat perilaku air mata yang keluar tanpa permisi.

            Satu dua jam aku menunggu giliran. Duduk bersama pasien yang senasib, membikin hati kecilku mengembangkan senyum hangat. Sebab ternyata nasibku tak sendiri. Lambat waktu, jarum jam terus berputar. Hingga akhirnya tibalah giliranku.

            Berjalan memasuki ruangan ber-AC, seadem hidup sang dokter. Seperti tak kenal masalah yang menggandulinya. Senyum ramah pun tersungging pada parasnya. Lumayan, sedikit terobati rasa sakitku.

            Duduk berhadapan dengannya, aku mulai bercerita sekilas penyakit yang bersembunyi di balik benakku. Tetesan air mata mengalir pada pipiku, mengingat akan penyakit yang menimpaku. Dokter mencoba menenangkan dan menghiburku. Sekian lama berbincang-bincang padanya, aku pun tak lupa diberi resep olehnya.

            Hingga akhirnya, selepas keluar dari ruangan, kini aku telah mengetahui bahwa tak baik aku meneruskan perjalanan kisah cinta ini. Kali ini aku telah menebak resep yang diberikan dokter tersebut., yaitu rajanya obat yang paling mujarab, putus!

            Lega, namun sedikit kebimbangan terusik dibenakku. Mungkinkah resep yang telah diberikan dokter itu adalah resep yang paling mujarab? Atau hanya karena rasa cintaku yang tak mau enyah dari hatiku saja? Entahlah, kegalauan kini sedang mencekram perasaanku. aku pun tak tahu harus ke mana aku berobat? Penat, galau, dan rasa rindu pada cinta yang dulu pernah mengisi hari-hariku dari orang yang jelas-jelas sudah tidak memperdulikan diriku lagi kala ini. Hingga akhirnya, aku pun memutuskan untuk pulang. Hanya istirahat yang sedang aku butuhkan untuk sedikit meredahkan penyakit yang sedang menggerogoti diriku.

            Tidak ada satu dua jam, semilir angin telah mengantarkanku ke rumah. Baru saja kedua kakiku menginjakkan tanah di pekarangan rumah, belum juga beristirahat untuk bernafas lega, tiba-tiba seperti sederet kata-kata ‘datang tak dijemput pulang tak diantar’, seorang pengantar jasa keliling yang diutus oleh kantor pos untuk mengatarkan sejumlah surat berharga atau bahkan bingkisan yang bernilai harganya dari seseorang yang berada jauh di sana, berhenti tepat di depan rumahku.

“Selamat siang, mbak. Dengan Ghea Larasati.” Kali ini pak pos menyebut namaku. Dengan hati gundah gulana dan sedikit deg-degan, aku pun menganggukkan kepala.

“Iya saya sendiri.” Jawabku sembari mengulurkan tangan menerima surat yang disodorkan oleh pak pos. Lantas, pak pos pun meninggalkanku bersama surat yang aku terima. Entahlah, penyakit yang kini sedang menggelayut dalam diriku semakin bertambah saja. Berbaring! Yah, hanya itu yang harus aku lakukan agar sedikit meringankan rasa sakitku. Namun, lagi-lagi hal itu gagal aku lakukan. Karena aku teringat akan surat yang telah dihantarkan oleh pak pos tadi. Ada rasa penasaran yang begitu besar dalam surat itu. Dengan gesit aku pun membukanya.

Dear, Ghea Larasati.

Larut dalam cinta bersamamu adalah suatu anugerah bagi diriku. Lekas berpaling dari cintamu, itu bukan keinginanku. Namun, kita tak pernah tahu akan rahasia angin yang bertiup memaksakan guliran waktu untuk membawakan takdir cinta kita. Takdir yang tak seorang pun akan mengetahuinya. Entah itu aku sendiri, kamu atau bahkan cinta kita yang setiap hari selalu berusaha tumbuh dan kian meningkat itu. Namun, mau berkata apa? Takdir cinta hanya mampu mengantarkan kita ke dalam guliran waktu dua puluh tiga bulan saja. Bagiku dua puluh tiga bulan bukanlah waktu yang lama. Begitu cepat berlalu cinta diantara kita. Namun, sekali lagi, apa mau dikata? Kini cinta kita harus berhenti di sini. Betapa menyakitkan peristiwa ini. Akan tetapi, kamu tidak perlu meneteskan air mata sedikit pun untuk takdir cinta kita yang harus berhenti sampai di sini ini. Dan perlu kamu tahu, meski takdir cinta telah berhenti cukup sampai di sini, namun akan ku simpan cinta kita dalam peti kenangan dalam hidupku hingga kelak. Maafkan aku yang hanya seorang pengecut. Yang hanya mampu mengungkapkan takdir cinta ini melalui surat yang sengaja ku tulis. Surat yang menjadi bukti berakhirnya takdir cinta kita selama ini. Semoga kamu bisa menerima keputusanku yang hanya terselip pada goresan tinta hitam dalam surat yang ku kirim ini. Semoga hubungan silaturrahmi persahabatan kita tetap terjalin hingga takdir cinta mempertemukan kita pada jodoh yang telah disediakan oleh Yang Maha Kuasa. Sekali lagi, semoga semilir angin tak henti-hentinya mengantarkan permohonan maafku padamu dan mampu mengatarkan kesejukan dalam hatimu.

Senyum hangat,

Sahabatmu  

***

Tiga bulan kemudian, sejak ku terima surat itu, hari-hariku semakin tak karuan. Aku kehilangan diriku yang dulu. Diriku yang selalu ceria, riang gembira hingga waktu menatapku cemburu membisu. Seakan tak mau membantuku menemukan jati diriku yang dulu. Jati diri yang hilang tersapu akibat kehadiran surat itu.

”Surat itu! surat itu! Yah, surat itu! di mana surat itu aku letakan?” gumamku dalam hati. Dari pojok ke pojok aku telusuri namun nihil. Tak ada bekas jejak surat itu. Apakah ini pertanda aku telah melupakannya selama ini? Atau karena kecerobohanku saja yang tak mau sedikit mengalah untuk menyimpannya? Huh! Lagi-lagi hanya berbaring di tempat tidur yang aku lakukan.

Siang hari, kala mentari bersemangat memancarkan sinarnya, aku melangkah keluar menuju tempat dokter. Dokter yang dulu pernah aku temui. Kini saatnya aku mengontrolkan kondisi diriku yang kian hari kian tidak jelas kondisinya. Aku melangkah sendiri tanpa seorang pun yang menemani. Hanya angin yang mampu meniupkan kesejukannya mengantarku ke tempat dokter itu. Kali ini, dari kejauhan tempat itu tampak sepi. Seperti tak ada penghuni di sana. Namun, aku tetap harus menemui dokter itu. Akhirnya, sekarang aku pun bertatap muka dengan dokter itu. aku menceritakan kejadian-kejadian yang telah mengusikku belakangan ini-tentang surat itu. Keheningan pun kini membalut ruangan tempat aku konsultasi dengan dokter. Kali ini, ketegangan sedikit terlihat diraut wajah dokter itu. raut wajah yang tidak seperti dahulu kala. Dan dengan menarik nafas panjang, dokter pun akhirnya berbicara mengenai diriku. Dengan berat hati aku mendengar kabar buruk yang keluar dari mulut dokter di depanku. Terkejut, tak kuduga dan tak ku bayangkan, dokter itu telah mendiagnosa diriku. Aku telah terserang penyakit liver. Liver yang telah tega menggerogoti diriku selama ini.

  Aku benci kabar ini! Aku benci penyakit ini! Aku benci surat itu! aku benci! Sederet kata aku lontarkan begitu saja di depan dokter. Air mata pun mengiringi suasana hatiku yang sedang kacau balau. Aku terdiam. Tak ada sedikit pun desisan-desisan angin yang menyejukan perasaanku. Hening! Bahkan burung-burung pun ikut berduka mendengar kabar itu. Kabar tentang penyakit liverku. Di mana burung-burung itu? di mana hembusan angin itu? di mana kalian semua?

Sejak itu, aku hanya terbaring lemas tak berdaya. Hanya teman-teman karibku saja yang bersedia silih berganti menghiburku. Dan tak sadar, botol-botol infus yang berisi ramuan-ramuan mujarab, kini telah memasuki tubuhku. Sedikit demi sedikit sudah aku rasakan. Namun, air mata tak pernah lelah keluar dari kantong mata jikalau mengingat penyakit liver yang sedang ku derita. Sungguh! Sungguh tidak tahan dengan kejadian yang ada.

Tiap hari, dokter tak pernah lelah memberiku obat. Namun, semua itu harus ada niat dan keyakinan tersendiri dari diriku. Apakah masih saja sibuk mengingat surat itu? atau memutuskan untuk hengkang dari masa laluku yang suram itu? semua itu kembali lagi pada diriku.

Hingga lambat laun, tanggal yang tertera di kalender mendekati tanggal kelahiranku. Tanggal yang begitu sakral bagiku. Karena di tanggal itulah awal perjalanan takdir cintaku mulai bersemi. Dan waktu pun bergulir cepat. Sekaranglah mulai masuk tanggal kelahiranku.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku secara rutin memperingatinya dengan mengadakan syukuran atau yang biasa disebut pesta ulang tahun. Namun, pesta ulang tahunku kali ini, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Penyakit liver yang sedang menggerogoti diriku masih saja aku rasakan. Sungguh, benar-benar sakit. Tapi, aku dipaksa oleh teman-teman karibku untuk tetap terliat bugar pada penampilanku. Topeng senyum pun akhirnya menghiasi wajahku yang suram. Dan dengan perasaan yang super tidak karuan akibat penyakit liver yang ku derita ini, aku merayakan tanggal kelahiranku. Rasa terharu terbesit di benakku kala mendengar nyanyian lagu selamat ulang tahun dari orang-orang di sekelilingku. Kini, tiba saatnya aku berucap doa dalam tiupan lilin angka umurku. Aku pun berucap: semoga diusiaku kali ini, aku berdoa pada Tuhan agar dipertemukan dengan lelaki yang rela memberikan hatinya untukku. Lelaki yang akan menyandingkan hatiku dengan hatinya. Seiring doa itu terucap dari benakku, tetesan air mata pun mengalir mengiringinya. Dan sekarang tiupan lilin telah aku padamkan. Suasana pesta ulang tahunku pun mulai melebur dengan penuh keramaian.

Tiba-tiba, seorang lelaki berjalan mendekatiku sembari menyerahkan sebuah bingkisan cantik berbentuk hati yang disodorkan ke arahku. Hati itu bertuliskan: will you marry me. Tulisan yang tega meneteskan air mataku. Tulisan yang mengantarkan ku pada rasa bahagia yang selama ini sedang kurindukan.

 Lelaki itu. Lelaki itu. Kamulah orang yang rela memberikan hati itu untukku. Begitu terenyuh hati ini. Penyakit liverku, kini telah melebur bersama bingkisan bertulisan tersebut.

Aku berkunjung kembali ke dokter yang dulu sempat mendiagnosa diriku dengan penyakit liver yang bersemayam dalam diriku. Dan kini, ada sedikit ketidakpercayaan dengan raut wajah yang tampak pada dokter itu. Apakah dokter ini kini sengaja memakai topeng senyum ke arahku? Apakah dokter ini lupa melepas topeng dari wajahnya? Entahlah, yang terpenting dalam hidupku saat melihat topeng yang terpampang di wajah dokter dan gembira saat mendengar kabar dari dokter kalau penyakit liver yang sedang ku derita kini telah melebur dan semoga tidak kembali lagi dalam hidupku. Tak lupa dokter pun memberiku resep. Resep yang sama dengan dokter yang sebelum aku merasakan keparahan pada penyakitku. Yaitu sebuah kepercayaan, kejujuran dan kerinduan padanyalah yang menjadi ramuan mujarab untuk diriku saat ini. Sekarang penyakit itu telah sirna sudah tersapu oleh angin kebahagiaan, canda tawa dari teman-teman dan menyibukan diri dalam kegiatan. Aku bahagia. Kini aku benar-benar telah sembuh total dari penyakit yang dulu pernah menggerogoti hatiku. Alhamdulillah! Aku begitu bersyukur dan tak henti-hentinya berucap terimakasih pada Thuan karena telah mengantarkan lelaki yang rela memberikan hatinya untukku. Dan mampu menghapuskan air mata yang selalu menggenangi pipiku. Kini aku bahagia telah hidup bersama dengan lelaki itu. Lelaki yang menjadi imam dalam perjalanan hidupku. Lelaki yang menjadi selimut dalam tidurku. Tuhan, terimakasih. Ucapku sebagai pengantar dalam tidurku sembari memejamkan kedua bola mataku.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar