Kamis, 06 Februari 2014

Perempuan Penunggu Hujan


Pada langit kelabu
Yang terseret oleh angin yang mendayu
Terombang-ambing dalam gelapnya udara biru

Butiran-butiran itu semakin nampak
Jatuh berserakan
Membawa luka pada jam kerja
Membawa duka bagi jemuran tua
Tapi membawa suka untuk mereka yang menantikannya

Perempuan penunggu hujan
Payunglah doa dalam hidupmu
Menanti pada butiran langit kelabu
Tak lupa memanggul payung tiap dekapanmu

Perempuan penunggu hujan
Kaulah pelindung tangisan langit yang menderu
Kadang menimbulkan kesakitan pada jiwa seseorang
Kadang pula membawa berkah bagi yang menantikannya

Kaulah, perempuan penunggu hujan itu

Pekalongan, 29 Desember 2013

My Rival My Inspiration


Hari itu tanggal 4 februari tepatnya dua hari setelah tanggal kelahiranku. Tanggal di mana yang seharusnya menjadi hari spesial bagi kebanyakan orang namun berbeda dengan diriku yang harus menelan rasa cemburu mampu mengecewakan bahkan dengan kata lain, hari spesialku telah terkontaminasi oleh rencana kedatangannya seorang pacar dari laki-laki yang telah menjalin dekat denganku yang berasal dari propinsi seberang. 

Hari itu menjadi hari terburuk dalam sejarah kehidupanku. Lebih buruk dari seorang sahabat yang lupa berucap selamat ulang tahun tepat di tanggal kelahiranku. Namun, apa mau dikata. Aku tak punya hak sama sekali buat marah, ngambek, dan cemberut sedikit pun sama dia. Sebut saja Mike namanya. Dia seniorku yang satu fakultas denganku di kampus. Mike lumayan terkenal akan otaknya yang ganteng tetapi agak kontras dengan wajahnya yang pas-pasan. Akan tetapi dengan modal riwayat pendidikan SMA-nya dulu yang bertaraf internasional, juga dari silsilah keluarganya yang sedikit terpandang, membuat Mike mampu memproduksi rasa pe-de dalam kehidupannya terutama di kampus.
  
Ketika itu aku hanya seorang mahasiswi baru semester 1 yang masih membawa sifat keluguanku ke dalam gedung bertuliskan universitas. Dari situ aku mulai mengenalnya dari sebuah organisasi intra kampus. Bukan cinlok alias cinta lokasi dalam organisasi, cuma ada kesamaan visi misi antara aku dan Mike yang akhirnya waktu mendekatkanku dengan Mike tersebut. Namun bak seorang artis yang sedang naik daun, kedekatanku dengan Mike selalu tersorot oleh kamera paparazzi alias banyak mata-mata yang tak lelah merekam setiap kebersamaanku dengan Mike. Hingga rumpian negatif tidak pernah absen memasuki telingaku. Banyak yang merasa heran dengan tak enggan untuk bertanya-tanya perihal kedekatanku. Tidak sedikit pula yang menggunjingku atau sejenisnya seperti melontarkan pertanyaan yang sedikit menyesakan, yaitu dengan bertanya, “Kamu kok bisa dekat sama Mike? Padahal Mike kan pinter?” pertanyaan yang menimbulkan rasa antara kebanggaan dan kedongkolan yang memuncak. Kebanggaan lantaran bisa dekat dengan Mike yang terkenal pintar dan hal positif lainnya. Sedang kedongkolan yang memuncak terselip dalam arti seakan aku tak pantas bergaul bahkan menjalin kedekatan dengan orang pintar seperti Mike. Dengan kata lain, mereka tanpa tedeng aling-aling telah meremehkan atau memandang suatu realitas dengan kaca mata kasta atau bisa dibilang subjektif. Namun (lagi-lagi) keluguan masih saja menyelimuti hidupku. Hanya tersenyum malu ketika pertanyaan itu terlontar kepadaku. Aku pun tidak mempedulikan ucapannya kala itu. Aku hanya tertuju pada visi misi yang hendak ku capai, itu saja!
***
 
Dan ketika hari itu, tanggal 2 februari telah berlalu. Dua hari setelah itu pun berjalan tanpa hambatan waktu. Cepat dan penuh was-was. Hingga tibalah tanggal 4 februari. Tanggal di mana pacar Mike telah datang. Tanggal di mana mulainya perubahan dunia dalam kehidupanku. Tak ada gambar amplop di ponselku yang bertuliskan nama Mike. Juga tak ada gambar ganggang telpon yang mengharuskanku menggeser ke warna hijau dengan nama Mike yang tertempel. “Benar-benar berantakan! Kacau balau! Cemburu memuncak! Dunia telah berubah! Sepi melanda! Galau!” teriakku dalam hati. Tapi tak seorang pun mengetahui kegalauanku. Aku memendamnya dengan berpura-pura bertanya pada Mike keeseokan harinya.
“Gimana tadi acaranya?” lewat ponsel pesan pun tersampaikan.
“Alhamdulillah lancar. Cuma pas mau ngopi hujan.” Balasan yang menyakitkan darinya.
Percakapan pun berjalan biasa. Akan tetapi dua hari berikutnya, perubahan begitu terlihat. Tak ada balasan pesan dari Mike yang ku kirim. Aku mencoba sabar dan positif tinking terhadap perubahannya. Tapi sudah lumutan aku menunggu sikap Mike yang seperti dulu, namun tetap saja nihil. Tak ada balasan pesan darinya. Dalam hati aku memutuskan, “Well well well! Ini yang kamu mau Mike! Aku siap mundur dan tidak memasuki kehidupanmu kembali!” prinsip yang kuat yang aku tanam dalam diriku. Namun, lagi-lagi tidak sesuai dengan realitas yang ada. Rasa empati muncul ketika beberapa hari kedepanya, saat Mike mencoba bergabung dalam bascamp organisasi yang aku ikuti. Kecuekan aku lakukan agar tidak lagi mengundang perasaan. Akan tetapi, (lagi-lagi) rasa empati itu muncul. Karena saat itu aku tidak menjadi diriku sendiri. Di mana aku yang tidak seperti biasa yang sering kali menyapa orang-orang sekitar yang ku kenal. Bahkan sampai bisa dibilang sok kenal sok dekat (SKSD). Tetapi berbeda dengan hari ini, aku menjadi orang asing bagi diriku sendiri dan Mike. Hingga Mike akhirnya menyerah yang kemudian meninggalkan bascamp tempat aku sedang berkumpul bersama teman-teman satu organisasi. Waktu dhuhur pun tiba. Saatnya aku bergegas pulang berbarengan teman-teman organisasi yang berada di bascamp bersama.
***
 
Di rumah, aku selalu merasakan kegalauan yang begitu memuncak. Karena mengingat kronologi kejadian beberapa waktu lampau bersama Mike. Di mana Mike yang dulu? Yang selalu mendekat untuk hanya sekedar menyapa sembari basa-basi pertanyaan? Di mana Mike yang dulu? Yang menelpon setiap kali aku bertanya perihal mata kuliah yang tidak aku pahami. Mike yang selalu bersedia membantu kala aku membutuhkannya? Di mana Mike yang khawatir dan langsung menelpom ketika aku tidak terlihat lagi di tempat semula aku duduk? Di mana Mike sekarang? Di mana dia berada? Tampak wujudnya melebur kebiasaannya dulu. Hanya bisa menangis dalam diam kala menjelang tidur. Mengingat kisah kasih yang terlewatkan. Kini hanya tersisa sebuah kenangan. Mike, where are you? I miss you so much. I need you. Butiran air mata tak lelah meleleh dari kantong mata. Hingga membuat sembab ketika terbangun keesokan harinya.
***
 
Pagi, siang, sore, malam, hanya bisa termenung sendiri terbelenggu oleh sebuah kenangan bersama Mike. Dengan bermodalkan ponsel jadul yang hampir pensiun untuk membantuku memantau setiap peristiwa yang dilakukan oleh Mike dan pacarnya itu. aku mulai menjelma menjadi seorang detektif amatir yang sedikit kepo dan kurang kerjaan akibat rasa cemburu yang memuncak dalam hati. Aku memantau pacar Mike yang ternyata menyukai dunia kepenulisan. “Mungkin inikah yang membuat hati Mike terpikat oleh kata-kata indah dalam setiap kalimatnya?” Akhirnya aku pun tergugah untuk memasuki dunia kepenulisan. Bukan karena aku ingin menarik hati Mike, melainkan aku ingin membuktikan bahwa she can, i can! (sembari mengepalkan kelima jemari tangan). 

Selain itu juga teringat akan ketika aku duduk di bangku SMP. Saat itulah aku mendapat nilai 80 dalam pembuatan cerpen pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Dan tak lupa juga saat kelas 1 SMA yang memberanikan diri dengan mencoba mengirim naskah cerpen ke salah satu redaksi majalah ternama. Meski alhasil tidak ada kabar akan naskahku itu, namun sebuah langkah awal bagiku untuk memasuki dunia kepenulisan. Kini aku telah membuktikan mantra: she can, i can!. Meski Mike memutuskan untuk memilih pacarnya, namun rasa bangga pada diri karena mampu membuktikan kata she can, i can! pada diri. Dan meski masih dalam bentuk antologi, sekarang aku telah mampu mengantongi enam buku. Serta rasa bangga itu muncul lantaran aku yang hanya bermodal keinginan, tanpa mempunyai background dari dunia kepenulisan sejak sekolah dasar hingga menginjak dunia perkuliahan, tanpa mengikuti ekstrakulikuler ataupun UKM kepenulisan. Dan sejak itulah aku menjadi ketagihan untuk menulis lebih banyak lagi naskah puisi ataupun cerpen di berbagai lomba di media online. Maka sejak itu pula mantra she can, i can! menjadi modalku untuk meraih impian-impian yang aku pendam. Thank you sudah menjadi my inspiration, my rival.