Disela-sela rasa capek yang kini sedang membalut tubuh, aku
menyempatkan waktu berkunjung ke sebuah pameran fotografi. Untuk sedikit meleburkan
kejenuhan mata yang delapan jam memandang komputer, tumpukan kertas-kertas
laporan, juga sebatang bolpoin keberuntunganku sejak aku berada di gedung tempat
aku bekerja. Kini saatnya aku memanjakan diri mengunjungi pameran fotografi
yang merupakan hobi keduaku setelah memasak.
Aku memapah
langkahku memasuki pintu muka gedung. Kedua bola mata terseret ke sebuah foto
yang terpajang di dinding ruang depan. Foto yang mampu menggetarkan jantung
hidupku kala menatap kedua bola matanya. Karena rasa rindu yang timbul dari
benak, aku pun mencoba melangkah mendekati foto itu. Foto perempuan yang selalu
menjadi inspirasi dalam hidupku. Perempuan yang telah menjadi pahlawan
kehidupanku selama tiga belas bulan. Perempuan itu, kusebut ibu.
Selain itu, di sana juga tampak terlihat
foto mawar merah yang begitu molek nan indah. Setelah kupandangi mawar
tersebut, ternyata di bawahnya terselip sebuah pesan kecil. Di situ tertulis seindah-indahnya
mawar yang mekar, dalam batangnya terdapat duri-duri yang mampu menyakitkan
tubuh jikalau tidak hati-hati saat memegangnya. Pesan kecil yang membawa
pikiranku untuk tidak selalu menjadi pemuja sang mawar. Di sampingnya, foto tanaman
kaktus ikut meramaikan pameran itu. Di bawah foto itupun tertera pesan kecil
yang berisi di balik tajamnya duri-duri yang membalut tubuh kaktus, ternyata di
dalamnya tersimpan air yang tidak akan pernah kita ketahui kecuali ketertarikan
pecinta tanaman kaktus itu sendiri.
Selain foto-foto
itu, ada satu foto yang menjadi petuah dalam hidupku. Foto itu adalah foto
peralatan dapur dengan sepiring makanan di sampingnya. Di samping pojok foto
itu terselip pesan kecil yang isinya begitu berarti untuk hidupku. Yaitu
seorang perempuan harus bisa memasak hingga menghidangkan sepiring makanan
untuk suaminya kelak. Karena hal itu salah satu perekat damainya sebuah keluarga.
Demi terwujudnya hal tersebut, kini aku rajin mengumpulkan sampah resep dari
beberapa toko buku dan mengikuti kursus masak di sebuah perkumpulan perempuan
penakluk alat dapur. Sekarang aku bahagia telah menjadi perempuan tersebut. Kala
sedang menikmati pameran fotografi tersebut, tiba-tiba adikku menangis dari
balik pintu kamar. Tangisan yang telah mengkontaminasi waktuku kala menikmati
pameran fotografi itu.
Pekalongan, 21 Juli 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar