Kamis, 18 Oktober 2012

Pameran Fotografi: Pesan Kecil


Disela-sela rasa capek yang kini sedang membalut tubuh, aku menyempatkan waktu berkunjung ke sebuah pameran fotografi. Untuk sedikit meleburkan kejenuhan mata yang delapan jam memandang komputer, tumpukan kertas-kertas laporan, juga sebatang bolpoin keberuntunganku sejak aku berada di gedung tempat aku bekerja. Kini saatnya aku memanjakan diri mengunjungi pameran fotografi yang merupakan hobi keduaku setelah memasak.
            Aku memapah langkahku memasuki pintu muka gedung. Kedua bola mata terseret ke sebuah foto yang terpajang di dinding ruang depan. Foto yang mampu menggetarkan jantung hidupku kala menatap kedua bola matanya. Karena rasa rindu yang timbul dari benak, aku pun mencoba melangkah mendekati foto itu. Foto perempuan yang selalu menjadi inspirasi dalam hidupku. Perempuan yang telah menjadi pahlawan kehidupanku selama tiga belas bulan. Perempuan itu, kusebut ibu.
            Selain itu, di sana juga tampak terlihat foto mawar merah yang begitu molek nan indah. Setelah kupandangi mawar tersebut, ternyata di bawahnya terselip sebuah pesan kecil. Di situ tertulis seindah-indahnya mawar yang mekar, dalam batangnya terdapat duri-duri yang mampu menyakitkan tubuh jikalau tidak hati-hati saat memegangnya. Pesan kecil yang membawa pikiranku untuk tidak selalu menjadi pemuja sang mawar. Di sampingnya, foto tanaman kaktus ikut meramaikan pameran itu. Di bawah foto itupun tertera pesan kecil yang berisi di balik tajamnya duri-duri yang membalut tubuh kaktus, ternyata di dalamnya tersimpan air yang tidak akan pernah kita ketahui kecuali ketertarikan pecinta tanaman kaktus itu sendiri.
            Selain foto-foto itu, ada satu foto yang menjadi petuah dalam hidupku. Foto itu adalah foto peralatan dapur dengan sepiring makanan di sampingnya. Di samping pojok foto itu terselip pesan kecil yang isinya begitu berarti untuk hidupku. Yaitu seorang perempuan harus bisa memasak hingga menghidangkan sepiring makanan untuk suaminya kelak. Karena hal itu salah satu perekat damainya sebuah keluarga. Demi terwujudnya hal tersebut, kini aku rajin mengumpulkan sampah resep dari beberapa toko buku dan mengikuti kursus masak di sebuah perkumpulan perempuan penakluk alat dapur. Sekarang aku bahagia telah menjadi perempuan tersebut. Kala sedang menikmati pameran fotografi tersebut, tiba-tiba adikku menangis dari balik pintu kamar. Tangisan yang telah mengkontaminasi waktuku kala menikmati pameran fotografi itu.
Pekalongan, 21 Juli 2012

{dimuat dalam buku sepanjang masa, antologi FTS (Kumpulan Kisah dan Puisi Tentang Orangtua), Oktober 2012, 27 aksara publishing}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar